Tepat pada bulan ini, memperingati momen ketegangan pasca covid-19 enam tahun lalu. Pada saat 2020 Madiun untuk pertama kali melakukan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). Saat itu kondisi Kota dan Kabupaten Madiun berada dizona merah, sehingga pemberlakuan PPKM berlaku sangat ketat. Semua SOP harus benar-benar dipatuhi, seperti mengenakan masker, social distancing, hingga semprot disinfektan.
Kepanikan berada dimana-mana, televisi berisi pemberitaan angka dan grafik penyebaran covid-19, beranda media sosial dihantui dengan ancaman dan kematian. Kebiasaan masyarakat yang kerap bersosial dipaksa menjadi anti sosial. Hampir disemua titik ada posko pemeriksaan dan disemua pintu komplek terpalang bambu.

Teringat momentum dimana para pelajar diliburkan dan yang sedang praktek kerja industri maupun sedang study tour dipulangkan paksa. Para pekerja diminta untuk work from home (WFH), tak jarang juga yang terkena PHK. Pertama kalinya masyarakat mulai familiar dengan istilah yang asing seperti WFH, Daring, PPKM, Lockdown, social distancing, dll.
Terlepas dari semua itu, tak jarang juga ada masyarakat yang bandel, padahal warganya terkenal patuh. Bukan karena tanpa alasan, melainkan karena sudah berada dititik jenuh dengan kebiasaannya yang terpaksa diubah hampir 180 derajat. Bak politisi, masyarakat bandel ini memainkan perannya sebagai ahli strategi. Seperti angkringan yang seharusnya tutup, mereka memasukan pelanggan diam-diam. Tak jarang juga digrebek, sehingga harus berurusan dengan Satpol PP dan Satgas Covid-19.

Bahkan beberapa sekolah SMK diam-diam mengizinkan muridnya untuk praktek, karena kekhawatiran seorang guru jika ketika lulus muridnya tidak bisa apa-apa. Mau bagaimanapun jika biacara soal pendidikan memang mutu sumber daya manusia (SDM) juga harus berkualitas. Kondisi dilema itu benar adanya, belum lagi jika berbicara soal skill kompetensi, misalkan nantinya ada perusahaan yang meminta sedangkan SDMnya tidak bisa apa-apa.
Perlahan kondisi semakin membaik, kemudian dikenal sebagai istilah new normal. Tapi bagi masyarakat Madiun itu adalah mbalik setelan pabrik. Karena masyarakat sudah dititik ingin kembali berkegiatan sosial dengan tetangga maupun sanak saudara seperti biasanya, bukan seperti kebiasaan new normal. Saat bertemu kembali bersalam-salaman, ketika beribadah tidak social distancing, dll.
Meskipun dampak negatif saat covid-19 sangat besar, namun masih ada juga beberapa dampak postifnya. Masyarakat saat ini lebih melek teknologi dibandingkan dengan yang dulu, hampir semua orang wajib memiliki smartphone, entah itu beli baru, beli bekas, maupun kredit. Kemudahan untuk mengakses informasi dan menjalin komunikasi benar-benar terjamin. Baik itu difungsikan untuk sekedar berkomunikasi, menjual produk, ataupun menawarkan jasa.
Dulu orang-orang ini bekerja ya harus kelihatan keringatnya, sekarang orang sudah bisa work from anywhere (kerja dari mana saja). Jika dulu orang bercita-cita menjadi TNI, Polisi, Pilot, dll. Maka sekarang orang-orang lebih memiliki banyak pilihan terutama pada sektor industri kreatif, seperti konten kreator, youtuber, foodvloger, cliper, dll.
Husein Abdillah | Abdi Dalem Medhioen.ae